Menyapamu untuk kembali menulis blog

Selamat siang, Entahlah, sebenarnya introduksi beberapa topik kembali di blog ini tidak perlu. Akan tetapi, sayang sekali inspirasi yang m...

Selamat siang,

Entahlah, sebenarnya introduksi beberapa topik kembali di blog ini tidak perlu. Akan tetapi, sayang sekali inspirasi yang menjadikan saya ingin aktif dan berjanji untuk kembali aktif menulis tidak diabadikan dalam satu bentuk post tersendiri. Ada beberapa hal yang memotivasi saya selain hal-hal klise yang biasanya ditulis oleh orang-orang diawal-awal membuat sebuah akun menulis, entah di tumblr, blogspot, wordpress, ataupun berbagai macam platform lain.

Percakapan dengan Kartini dan Nadya Myrilla.

Sudah berkali-kali Kartini menasehati saya untuk mengabadikan pemikiran dan pengalaman yang saya punya secara aktif lewat tulisan. Dia pernah bertanya, "apa yang membuat Soekarno masih begitu hidup sebagai pemimpin, Hatta begitu nyata hadir dalam sendi kehidupan bangsa kita ? kenapa kita jauh lebih kenal dengan beliau dibandingkan dengan kakek buyut kita sendiri ?" Tulisan. Betul pikirku, apa yang menjadi kegelisahan, pemikiran, dan solusinya untuk bangsa ini terekam dalam tinta-tinta yang dituliskan. Bukan hanya dalam tinta, nyatanya tinta itu terenkripsi dalam bit-bit data yang tersuguh dalam format pdf dan sejenisnya.

Lalu ia juga menambahkan bahwa ini semua juga tentang perjuangan. Dari Sayid quthb, bahwa perjuangan itu punya dua warna. Satu tentang warna merah, tentang aksi dan turun tangan langsung yang dilaksanakan. Satu lagi tentang warna hitam. Warna yang merepresentasikan warna tinta yang pada dasarnya hitam. Perjuangan kita tentunya harus keduanya, di satu sisi berwarna merah, tapi juga harus berwarna hitam juga. "Kenapa kamu gak nulis sih ? Hitler yang secara ideologis dianggap orang-orang adalah ideologi jahat saja baik, kamu yang udah jelas-jelas punya ideologi baik kenapa gak memperjuangkannya dengan menulis saja?" Duar pertama ! rasanya tepat tertembak di dada.

Entah kenapa, ada suatu hal yang sangat mengganggu saya ketika saya ingin menulis, saya baru menyadari adalah kesulitan saya untuk menerima kritik.Yap, lagi-lagi percakapan ini yang membuat saya sadar. Memilih untuk berusaha tidak menunjukkan kekurangan adalah kebodohan kesekian yang telah saya lakukan karena bawaan karakter saya. Padahal dengan menunjukkan kekurangan, kita akan dididik oleh lebih banyak orang dan membuka lebih banyak ruang belajar, terlebih lagi menunjukkan kekurangan adalah menunjukkan bahwa kita memang manusia. "Kenapa tidak menulis ? Aku tau kamu gak siap dengar kritik pembaca kan ?" duar kedua ! rasanya tepat tertembak di kepala.

Interaksi dengan kawan-kawan kabinet

Setidaknya interaksi saya dengan kawan-kawan kabinet membuat saya berpikir keras untuk membuat menulis sebagai suatu pemenuhan kebutuhan, bukan hobi yang jika saya sibuk dapat saya tinggalkan begitu saja. Adit-phx selalu mendengungkan budaya literasi yang harusnya dihidupkan sebagai upaya dari gerakan. Obe memantik saya untuk menulis karena tulisannya yang super keren untuk menaikkan isu di kemahasiswaan. Atika Almira yang memberikan saya ide untuk menuangkan hasil-hasil saya mengisi di berbagai tempat dalam bentuk tulisan. Teman-teman kabinet Nyala yang senantiasa memberikan yang terbaik untuk Tuhan, bangsa, dan almamater yang usahanya berbagai macam agar sama-sama menjadikan KM ITB sebagai simpul aksi untuk mewujudkan kemandirian bangsa.
Hanya saja, saya masih harus berusaha keras untuk bisa menulis di kondisi mood apapun. Berkali-kali saya mencoba menulis di tengah malam ketika semua aktivitas saya telah selesai, tapi sepertinya mood saya di malam hari mayoritas diisi oleh perasaan galau, kesal, ataupun rasa bersalah yang menumpuk, akhirnya saya berpikir bahwa saya harus menulis di saat siang seperti yang saya lakukan sekarang.

Bahan-bahan tulisan selanjutnya

Seperti judulnya, growing tree, si pohon yang bertumbuh. Ia berbicara tentang akar yang menopang, itu berarti tentang ideologi, buah pikir, refleksi yang menguatkan pondasi diri. Ia berbicara tentang batang yang menghujam tinggi untuk dipanjat, mengantarkan orang lain untuk memandang lebih luas, menunjukkan kekokohan dan ketokohan dari pohonnya. Ia berbicara tentang daun yang rindang, yang bisa membuat nyaman dan tenang di naungannya. Ia berbicara tentang buah, yang manis dan gizinya dapat dirasakan bagi siapapun, bahkan kepada orang yang melemparinya dengan batu dan sandal ! dan tentunya tentang air, pupuk, cuaca, dan segala hal yang membuat si pohon tetap hidup.

Jika kalianpun yang baca /mendingkaloada/ mau request untuk saya menuliskan tentang hal-hal tertentu yang kalian anggap butuh ataupun menarik, maka silakan komen atau kirim pesan ke semua socmed yang saya punya. Doakan semoga bisa konsisten :)





You Might Also Like

1 komentar

  1. Sebab setiap riwayat adalah tulisan. Setiap gerakan zat adalah riwayat. Menulislah maka kau ada. Lanjutkan jok!

    BalasHapus